DO’A DAN PELETAKAN BATU PERTAMA Utuk Pembangunan Gedung kelas dan Aula

Senin, 18 Desember 2017. Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Qoryatul Qur’an unit putra selenggarakan peletakan batu pertama dan Do’a bersama di halaman Pondok sebagai tanda bahwa proses pembangunan gedung baru di Qoryatul Qur’an putra sudah resmi di mulai.

Acara ini dihadiri oleh Segenap pengurus yayasan Qoryatul Qur’an, seluruh jajaran asatidzah, seluruh santriwan, 

Iklan

BROSUR PSB PPTQ QORYATUL QUR’AN Sukoharjo

🔊🔊🔊🔊🔊🔊

INFORMASI PENDAFTARAN SANTRI BARU PPTQ QORYATUL QUR’AN PUTRA WERU SUKOHARJO JAWA TENGAH TAHUN PELAJARAN 2018/2019
📚PROGRAM_PENDIDIKAN :

  1. SMP TQ
  2. SMK TQ 

  3. IMTAQ (MUALIMIN)
    📒SYARAT PENDAFTARAN :

1. Mengisi Formulir Pendaftaran

2. Membayar uang pendaftaran Rp. 200.000,-

(Transfer ke BRI : 6907-01-009294-53-1    a.n EDI CASEDI)

3. Foto copy KK dan KTP orang tua/wali 3 lembar

4. Pas foto 3×4 = berwarna background merah 3 lembar, hitam putih 3 lembar
🗞 CARA PENDAFTARAN :

1. Datang langsung ke PPTQ Qoryatul Qur’an Putra, pada jam pendaftaran pukul 08.00 – 16.00 WIB, dengan membawa syarat pendaftaran.

2. Daftar secara online dengan mengisi formulir yang tersedia di Web pondok

3. Daftar Via WhatsApp; Nama anak dan Ortu, TTL, Alamat, dan bukti transfer biaya pendaftaran, lalu kirim ke WA 087835151486

081215276560
🗓 WAKTU DAN MATERI TES :

1. Pendaftaran Tes Seleksi Gelombang 1 :

01-31 Desember 2017 (One Day Service)

2. Pendaftaran Gelombang 2 :

01 Januari – 25 Februari 2017 (Dibuka jika kuota gelombang 1 belum terpenuhi)

Tes Seleksi : 04 Maret 2018

Pengumuman Hasil Tes : 12 maret 2018
📖MATERI TES MASUK:

  • Baca tulis Al-Qur’an
  • Kecepatan hafalan

  • Ilmu Pengetahuan Islam

  • Tes Kesehatan

  • Wawancara (Santri dan Orang Tua)
    💳 RINCIAN PEMBIAYAAN :

  • Biaya Daftar Ulang apabila diterima Rp. 4.250.000,-

  • SPP/Syahriyah Rp. 550.000/bln
    🗃 RINCIAN BIAYA DAFTAR ULANG :

  • ➖ Peralatan tidur dan Asrama 

    ➖ Kain seragam 3 stel

    ➖ Pengembangan Dirosah dan Tahfizh

    ➖ Infaq Kesehatan

    ➖ MOS dan Khutbah Ta’aruf

    ➖ Pengembangan Perpustakaan

    ➖ Program Kesantrian per 1 tahun

    ➖ Seragam Ekstrakulikuler

    ➖ Pengembangan Program Bahasa
    📮 ALAMAT PONPES:

    Kauman Rt 01/06 Jatingarang Weru Sukoharjo Jawa Tengah
    🏢  ketik PPTQ QQ KAUMAN pada aplikasi google maps. 
    📧 e-mail:

    ponpesqoryatulquran@gmail.com
    🗳web

    qoryatulquran.id

    JAUHKAN ANAKMU DARI KEMUDAHAN

    (Rhenald Kasali)

    Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya.
    Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu “ada main” dengan dosen-dosennya. “Karena mereka tak sepintar aku,” ujarnya.

    Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar: kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit.
    Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.

    Hadiah orangtua

    Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan”.
    Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan “membuka pintu”, jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya.
    Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya.

    Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.
    Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah.
    Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: “Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?”
    Jadi, dari kecil, saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.
    Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk “bengal”. Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang “selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan”.
    Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak. Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya.
    Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar.

    Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.
    Panggung Orang Dewasa
    Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif.
    Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU.

    Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui.
    Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang.

    Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu “bodoh”, tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya.
    Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.
    Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.
    Di Universitas Indonesia, saya membentuk mahasiswa-mahasiswa saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang.
    Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan: bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.
    Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan.
    Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup.
    Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan.
    Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja:

    Orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu.

    Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.
    Semoga manfaat 🙂
    ====={Group WA}=====

    RANJAU-RANJAU LIBURAN SANTRI

    (Pesan Bagi Wali Santri)

    Satu pekan pasca liburan santri, saya sering mendapatkan banyak keluhan dari para orang tua yang kebetulan putra-putri mereka sedang mondok di pesantren.
    Mereka mengeluh bahwa anaknya tidak kerasan di Pesantren. Bahkan beberapa dari anak tersebut memaksakan diri untuk pulang ke rumah dan tidak mau lagi belajar di pesantren.
    Dari beberapa fenomena tersebut ada beberapa kesamaan di antara mereka.
    Pertama, fenomena ini banyak terjadi pada anak-anak yang baru masuk pesantren dan liburan yang lalu adalah liburan pertamanya.
    Kedua, fenomena tersebut sering terjadi setelah liburan. Terutama pada liburan pendek mereka pada semester pertama.
    Menghadapi kenyataan bahwa anak kita mulai tidak kerasan di pesantren tentu cukup membuat kita galau, apalagi sampai mereka keluar dari Pesantren.
    Namun sebagai orang tua tentu kita perlu untuk mengevaluasi apa yang terjadi pada liburan mereka. Sehingga kita dapat belajar untuk adiknya atau saudara-saudara kita lain yang juga akan memasukkan anaknya di pesantren.
    1. Pada saat liburan ada perbedaan yang sangat besar antara aktifitas mereka di pesantren dan di rumah.
    Di pesantren mereka dituntut untuk shalat berjamaah, tilawah, melakukan segala hal secara mandiri dan banyak aturan pesantren. Sementara selama liburan di rumah tidak ada lagi kewajiban untuk shalat berjamaah, tilawah serta berbagai macam aturan.
    Semuanya dikerjakan oleh orang tua dan pembantu. Dengan fakta ini orang tua justru lebih sering mendukung dengan alasan biarlah anaknya istirahat. 

    Apa yang terjadi saat waktu liburan sudah usai, anak membayangkan betapa nikmatnya di rumah dan betapa beratnya di pesantren.
    Kondisi ini akan membuat anak merasa berat untuk kembali ke pesantren.
    2. Saat anak liburan di rumah, orang tua cenderung untuk menuruti segala permintaan anak seperti handphone, baju-baju kesukaan anak, alat permainan, kendaraan dan lain-lain.
    Beberapa barang yang telah dibeli selama liburan oleh anak tidak diperbolehkan untuk dibawa ke pesantren membuat anak selalu teringat barangnya saat mereka kembali ke pesantren. Mereka merasakan betapa beratnya harus berpisah dengan barang kesukaan mereka.
    3. Selama liburan anak, orang tua berusaha memasakkan bagi anaknya sesuatu yang disenangi anaknya secara berlebihan.
    Hal ini sebenarnya sangatlah wajar bagi seorang ibu yang mencintai anaknya. Namun sesuatu yang berlebihan sangatlah tidak baik, bahkan dapat membangun pemahaman betapa enaknya masakan di rumah dibandingkan di pesantren.
    4. Banyak orang tua memberikan kesempatan kepada anaknya untuk  menunda waktu kembali anak pasca liburan selesai bahkan di antara mereka mengantar ke pesantren melewati jadwal yang telah ditetapkan oleh pesantren.
    Sikap lunak orang tua ini akan mendorong anak mengambil peluang sering pulang ke rumah pada saat bukan liburan anak. Akhirnya anak yang sering izin keluar biasanya mereka mudah tidak kerasan untuk di pesantren.

     

    Berawal dari beberapa fenomena di atas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua saat putranya libur dari pesantren, di antaranya adalah :
    1. Membuat peraturan rumah dan aktifitas anak selama liburan di rumah mirip dengan peraturan dan aktifitas anak di pesantren. Seperti tetap mengistiqomahkan shalat jamaah, tilawah, membersihkan kamar sendiri dan lain.
    Sehingga saat mereka kembali di pesantren tidak merasa kaget dan heran.
    2. Memberikan apa yang diminta oleh sesuai dengan kebutuhannya.
    Tidak baik bagi para orang tua dengan alasan bahwa putra mereka yang dipesantren jarang merasakan kenikmatan sebagaimana saudara mereka di rumah, kemudian memberikan apapun yang diminta oleh anak. Seperti gadget terbaru, pakaian terbaru yang tidak boleh dipakai di pesantren, pergi ke tempat yang disenangi oleh anak, dan lain-lain.
    Justru semua pemberian yang tidak dapat dimanfaatkan di pesantren di atas akan membuat anak selalu ingat barang atau pengalamannya selama mereka di pesantren.
    3. Secara naluriah mayoritas anak cenderung menunda-nunda waktu kembali ke pesantren.
    Ini seperti anak kecil yang terdorong untuk menyusu ke ibunya walaupun sudah saatnya untuk disapih.
    Sikap tegas dan bijak orang tua untuk tetap mengantarkan putranya kembali ke pesantren tepat waktu akan membuat anak anak merasa ringan ketika masuk pesantren.
    Sebaliknya menunda-nunda untuk mengantarkan anak justru menjadi beban berat anak masuk pesantren, karena masa adaptasi anak agak terlambat
    🌷siap2 menyambut putra putri liburan 🌷
    semoga bermanfaat

    ======{Group WA}======

    ​Doa Doa Di Musim Hujan


    A. Saat Angin Kencang
    ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺇﻧﻲ ﺃﺳﺄﻟﻚ ﺧﻴﺮﻫﺎ ﻭﺧﻴﺮ ﻣﺎ ﻓﻴﻬﺎ ﻭﺧﻴﺮ ﻣﺎ ﺃﺭﺳﻠﺖ ﺑﻪ
    ﻭﺃﻋﻮﺫ ﺑﻚ ﻣﻦ ﺷﺮﻫﺎ ﻭﺷﺮ ﻣﺎ ﻓﻴﻬﺎ ﻭﺷﺮ ﻣﺎ ﺃﺭﺳﻠﺖ ﺑﻪ

    ”Allahumma innii as’aluka khairaha wa khaira maa fiihaa wa khaira maa ursilat bihi.

    Wa a’udzu bika min syarriha wa syarri maa fiihaa wa syarri maa ursilat bihi..”
    “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu kebaikan angin ini.. Continue reading “​Doa Doa Di Musim Hujan”